Omset Melejit Gunakan Strategi Usaha Toko Bahan Bangunan

usaha toko bahan bangunan
sumber : fortune.com

Usaha toko bahan bangunan– Pada postingan kali ini saya ingin berbagi pada Anda tentang sedikit pengetahuan saya mengenai strategi usaha toko bahan bangunan dalam menentukan harga (jual) pada toko bahan bangunan. Berjualan barang-barang di toko bahan bagunan menurut saya tidak sekedar membeli barang dengan harga sekian, kemudian dijual dengan harga “sedikit” di naikkan saja, tetapi sebenarnya metode menaikkan harga jual itu, ada strateginya. Butuh usaha keras untuk memenangkan persaingan usaha toko bahan bangunan yang kian hari semakin ketat. Anda lengah sedikit bisa-bisa anda akan disalip kompetitor anda.

Berikut ada beberapa poin yang bisa sedikit di jadikan acuan dalam menentukan harga jual dalam usaha toko bahan bangunan :

Strategi Management Pricing 

Kubur jauh-jauh anggapan bahwa berjualan di toko bangunan hanya masalah memberi bandrol harga jual, kemudian menunggu pembeli datang, bukan semudah yang dipikirkan. Ingatlah bahwa management pricing adalah seni, atau bisa saya ilustrasikan begini :

“Jika Pelukis Punya Kuas, Pemusik punya gitar atau drum, Pembalap punya mobil atau motor,

maka Pemilik toko bahan bangunan punya harga jual”

Sebagai seorang pengusaha toko bangunan, tidak hanya pelayanan yang ramah pada pelanggan, pencarian pemasok yang terpercaya, dan management persediaan yang baik, akan tetapi penentuan harga jual yang tepat , juga merupakan pekerjaan yang harus Anda jalankan dan nikmati di dalam bisnis toko bangunan Anda.

Jangan Menyamaratakan Prosentase Harga Jual pada Semua Barang

Karena management pricing adalah seni, maka dalam menentukan harga jual, Anda tidak boleh asal. Anda harus punya analisa yang tepat untuk setiap harga jual yang akan Anda bandrol pada barang-barang yang Anda jual.

Baca juga artikel sebelumnya : rahasia membuka toko bangunan

Setiap barang yang dijual pada usaha toko bahan bangunan Anda harusnya mempunyai nilai jual atau tingkat perolehan keuntungan yang berbeda-beda.

Sebelum lebih jauh saya membahas kenaikan harga jual ini, tahukah Anda bagaimana menghitung prosentase kenaikan harga jual tersebut?

Harga jual tersebut di bandingkan dengan harga beli ataukah dengan harga pokok penjualan (HPP) ?  Apa itu HPP saya harap anda sudah tahu apa itu HPP. Bagi yang belum tahu bisa googling disini.

Harga beli dan HPP tidak selalu sama untuk setiap barang, kadang lebih besar, kadang lebih kecil. Seorang manager yang baik akan selalu memantau nilai prosentase harga jual ini. Di bagian belakang (back office) manager mengedit harga jual, sedangkan di bagian depan / front office,  bagian penjualan melakukan penjualan dengan harga yang sudah di olah oleh manager di belakang. Dengan kerjasama ini, diharapkan akan memperoleh keuntungan yang optimal (bukan maksimal), karena kalau hanya memikirkan laba sesaat (maksimal), belum tentu pelanggan yang beli hari ini akan kembali lagi ke toko kita.Butuh kebijakan manager dalam menentukan harga jual.

Jalankan Teori “Nggendong Indhit “ (bahasa jawa)

Nah, setelah Anda memahami bahwa menentukan harga jual adalah seni, sekarang kita akan memperlajari poin-poin apa saja yang bisa di jadikan acuan dalam menetukan harga jual dalam usaha toko bahan bangunan.

Tapi ngomong-ngomong yang di maksud dengan istilah “nggendong indhit” adalah:
Menentukan prosentase untung yang tidak sama pada semua barang ,yaitu membuat barang dengan frekuensi penjualan laris di jual dengan murah atau bahkan tidak untung, sedangkan barang lainnya (kelarisan nomor 2) di jual dengan harga yang cukup mahal (untung banyak).

Barang yang sangat LARIS, di jual dengan harga MURAH (untung sedikit, atau tidak sama sekali) ini dimaksudkan untuk mendongkrak penjualan barang-barang dengan “tingkat laris” penjualan nomer dua. Barang-barang di level 2 ini bisa dibuat nilai keuntungannya lebih tinggi. Dimana barang-barang di level 2 ini jarang sekali dibeli oleh pelanggan, tetapi hanya sebagai suplement untuk pembelian barang –barang terlaris (level 1) tadi.

Sebagai contoh, kita menjual triplek dengan harga murah, akan tetapi paku triplek kita menjual dengan mengambil keuntungan lebih banyak, atau cat pada thiner dan lain sebagainya.
Varisasi barang nomer satu dan nomer dua ini, berbeda-beda untuk masing-masing toko bangunan, gunakan laporan penjualan Anda untuk menganalisanya.

Teori ini sebenarnya banyak di praktekkan juga di bisnis yang lain (tidak hanya  usaha toko bahan bangunan)
Contoh usaha minimarket untuk barang sembako dan non sembako atau makanan utama pada minuman. Dan juga teori ini digunakan hampir di semua bisnis perdagangan.

Jual Barang fast Moving dengan Harga Murah

Sebagai lanjutan dari teori diatas, biasanya kita menjual dengan harga murah untuk barang-barang yang fast moving (barang cepat laku), barang-barang ini (harus) kita jual lebih murah karena biasanya di gunakan sebagai pembanding bagi pembeli untuk melihat, apakah barang di tempat kita lebih mahal atau lebih murtah di bandingkan tempat lain. Untuk barang-barang fast moving ini kita bisa menerapkan teori ambil untung sedikit, tapi diharapkan mempunyai frekuensi penjualan yang banyak.

Contoh barang yang fast moving diantaranya adalah : besi beton, semen, pasir, batu bata dan masih banyak lainnya.

Jangan Selalu Mengobral Barang Slow Moving Kecuali Terpaksa

Banyak sebab yang bisa membuat barang kita menjadi slow moving, tidak selalu penyebabnya adalah harga yang terlalu mahal. Beberapa sebab diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Merupakan barang yang yang sudah tidak trend lagi.
2. barang tersebut tidak cocok dengan selera sekitar.
3. barang tersebut trend nya terlalu maju atau belum menjadi trend di daerah Anda.

Pada saat di toko Anda terdapat barang slow moving, maka Anda tidak selalu harus menerapkan penjualan murah untuk barang tersebut, meskipun dengan penjualan murah, di harapkan perputaran cash flow Anda bisa lebih lancar. Barang slow moving bisa jadi di jual mahal saat memenuhi kriteria berikut:

1. tidak punya kadaluarsa.
2. merupakan barang antik.
3. tidak ada versi terbarunya
4. teknologinya masih bisa di pakai oleh pelanggan.

jika barang Anda mempunyai kriteria itu , maka bisa saja Anda mematok harga yang relatif mahal untuk barang tersebut, dengan harapan masih ada pelanggan yang mencari barang-barang “antik” tersebut.

PENTING !

Sekali lagi, seperti halnya pada postingan-postingan sebelumnya , postingan kali ini juga bisa kami katakan hanya sebuah teori yang tidak 100% benar, dan tidak serta merta bisa di terapkan langsung ke dalam usaha toko bahan bangunan Anda. Postingan ini hanya sebagai pembuka wacana Anda dalam menjalankan bisnis ini.

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *